|
Selamat Datang di situs resmi SDIT Insan Mandiri Jakarta
SDIT Insan Mandiri Kembali Menjadi Juara Umum Loketa Kec. Pasar Minggu Wilayah II Alhamdulillah, akhirnya SDIT Insan Mandiri dapat mempertahankan Gelar Juara Umum yang telah diraihnya sejak tahun lalu dalam kegiatan Lomba Keterampilan Agama (LOKETA) Kec. Pasar Minggu Wilayah II pada 27 Januari 2010 lalu. Hampir seluruh mata lomba SDIT Insan Mandiri tampil sebagai pemenangnya. Subhanallah, suatu prestasi yang cukup membanggakan.
Berikut murid-murid yang telah mengharumkan nama SDIT Insan Mandiri:
Pengumuman Lomba Kelas Berprestasi Pemenang piala bergilir kelas berprestasi periode Okt-Nov-Des 2009 adalah: 1. Kelas paling disiplin : SD5 Mus'ab Bin Umair (rata-rata nilai: 88,3) 2. Kelas paling rapi, bersih dan Indah : SD2 Utsman bin 'Affan (rata-rata nilai: 88,3) 3. Mading & display kelas paling kreatif-inovatif : SD2 Ali Bin 'Abu Tholib (rata-rata nilai: 93,3)
 Alhamdulillah SDIT Insan Mandiri meraih Juara I Lomba Melukis dengan Pewarna Alami dan Juara I Lomba Daur Ulang pada Acara Memperingati Hari Pohon Se-Dunia " Hijau Bumiku, Hijau Sekolahku" diselenggarakan oleh Yayasan Sahabat Kita - SIT Insan Mulia - JSIT DKI Jakarta di SIT Insan Mulia, Sabtu, 21 November 2009 Rabu, 16 Desember 2009, SDIT Insan Mandiri telah melaksanakan kegiatan santunan kepada anak Yatim. Sebanyak 100 paket santunan dibagikan sebagai ungkapan perhatian terhadap mereka. Bersamaan dengan kegiatan tersebut dilakukan pembagian hadiah kepada murid-murid berprestasi yang telah meraih juara dalam 'GEBYAR MUHARRAM 1431 H' Semoga Allah SWT meridhoi langkah kebaikan yang kita lakukan. Jazakumullah atas segala bentuk partisipasi Bapak/Ibu sekalian. Selamat kepada Para Pemenang!
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Selamat datang di situs SDIT Insan Mandiri Jakarta, Alhamdulillah atas berkah dan petunjuk Allah Swt, situs ini hadir di hadapan Anda yang menanti-nantikan sarana informasi dan komunikasi, baik internal maupun eksternal yang bersifat umum. Abad 21 adalah era mutu. Bagi SDIT Insan Mandiri, mutu menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai bidang termasuk pendidikan. Pendidikan bermutu menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Di tengah kompetisi yang sangat ketat seperti sekarang ini dan kecenderungan ke depan, eksistensi sebuah sekolah sangat ditentukan oleh kualitas sekolah. Sekolah bermutu berpeluang lebih besar untuk terus eksis sedangkan sekolah tidak bermutu lama–kelamaan akan tutup atau ’ di-regroup’, ditutup dan muridnya digabungkan ke sekolah yang lain.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Sinergisitas Guru-Orangtua Murid Bisa Atasi Kerumitan Kurikulum |
|
|
|
|
Ditulis oleh administrator
|
|
Rabu, 11 November 2009 12:57 |
Jakarta, Kompas - Kerumitan kurikulum yang selama ini dianggap membebani siswa SD-SLTA, perlu disiasati dengan membangun sinergisitas antara guru dan orangtua murid. Di sekolah, guru harus kreatif menyederhanakan materi pelajaran sehingga siswa bisa belajar dengan hati yang senang. Sementara di rumah, orangtua diharapkan memotivasi sekaligus memantau kesulitan belajar putra-putrinya melalui komunikasi yang sehat.Demikian dikemukakan pakar pendidikan Dr Arief Rachman MPd dalam seminar "Proses Pembelajaran yang Efektif, Sederhana, dan Menyenangkan" di Jakarta, Sabtu (2/11). Forum yang digelar Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG) SMU Labschool Kebayoran tersebut juga menampilkan pakar psikologi anak, Ratih Gandasetiawan Phy T, dengan moderator Debra Yatim.
Arief menegaskan, sungguh tidak bijak jika guru mencaci-maki sistem jika beban kurikulum membuat muridnya malas belajar. Daripada terjebak keluhan demi keluhan, ada baiknya masalah itu diatasi dengan membangun kemitraan antara guru dengan orangtua murid. Guru mestinya tertantang untuk membuat strategi baru, misalnya, dengan menyederhanakan materi pelajaran. |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
8 Cara Melepas Kelekatan Anak |
|
|
|
|
Ditulis oleh administrator
|
|
Rabu, 09 September 2009 00:00 |
Di usia ini, anak memang masih amat lengket dengan orang tuanya. Namun dengan perlakuan yang tepat, melepas anak agar lebih mandiri, tidak mustahil, kok.
Dalam melakukan aktivitas apa pun, kebanyakan anak usia batita ingin ditemani ayah-ibunya. Sarapan, mandi, pakai baju, atau minum susu, semua harus melibatkan kita. Kalau tidak, ia bisa ngambek. Sementara, setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.
Menanggapi hal ini, Niken Ayu Purbasari, S.Psi. mengatakan, penyebab kelekatan anak yang berlebih tak lain disebabkan pola asuh keliru. Jika orang tua selalu membiasakan diri menolong anak, kelewat melindungi, membatasi gerak, dan bersikap otoriter terhadapnya, wajar saja bila akhirnya ia sangat tergantung pada orang tua, kelewat lengket, dan kurang bisa bersikap mandiri. "Anak, kan, belajar dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Kalau keluarga menerapkan pola pendidikan yang keliru, bukan tidak mungkin pertumbuhan kepribadiannya jadi kurang baik," urai psikolog dari Yayasan Mutiara Indonesia ini.
Ketidakmandirian semacam itu jelas akan menimbulkan kerugian bagi si kecil. Di antaranya, tidak bisa secara optimal mengembangkan kepribadian, serta kemampuan sosialisasi dan kehidupan emosionalnya juga terhambat. Itulah mengapa orang tua dituntut mencermati kelekatan yang berlebih ini, sekaligus segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika tidak, pengaruh buruknya akan berbekas hingga ke masa mendatang. Ingat, masa batita merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seorang anak hingga ia berusia dewasa.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
SOAL OPEN BOOK MELATIH ANAK BERPIKIR CERDAS |
|
|
|
|
Ditulis oleh Munif Chatib
|
|
Rabu, 11 November 2009 11:48 |
Biasanya untuk mengukur kemampuan kognitif anak kita terhadap bidang studi, alat ukurnya adalah tes. Kalau nilai hasil tes baik, maka anak kita dianggap ‘pinter’ atau ‘pandai’. Sebaliknya jika hasilnya rendah atau jelek, dia dianggap kurang mampu, lebih kasar lagi diistilahkan ‘bodoh’. Berdasar hal di atas akhirnya ‘tes’ menjadi makhluk yang amat penting dalam keberhasilan anak-anak kita. Lebih jauh berkenalan dengan ‘tes’, ternyata sangat beragam keberadaannya.
KONTEN TES Menurut kontennya, tes mempunyai kelas-kelas. Kelas paling rendah adalah ‘pengetahuan’. Ciri-ciri tes pada kelas ‘pengetahuan’ antara lain biasanya isi tesnya membutuhkan jawaban hafalan. Biasanya jawabannya tunggal, tidak memberi kesempatan jawaban yang lebih luas. Dan instruksi yang sering digunakan adalah ‘multiple choice’, atau ‘benar dan salah’.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
Menggapai Keluarga Bahagia: 9 Hukum alam yang dapat memperkaya kehidupan keluarga |
|
|
|
|
Ditulis oleh Heni Lestari, S.Pd, M.Si
|
|
Jumat, 05 Juni 2009 14:06 |
Begitu banyak orang tua sekarang yang lebih mampu mengelola anak-anaknya dibandingkan mengasuh mereka. Anak bukan seperti tanah liat dan orang tua pematungnya, yang bisa dibentuk untuk meningkatkan status mereka atau perluasan ego mereka. Namun anak laksana semaian pohon kecil. Kita tidak membentuk mereka. Tapi kita merawat, mengetahui jenisnya untuk mengetahui apa yang mereka perlukan, menyediakan pasokan air, memberi pupuk, dsb.
9 hukum alam di bawah ini merupakan analog agar kita mudah mengingat dan menerapkannya dari waktu ke waktu dalam rangka pengasuhan anak.
Prinsip I : KOMITMEN (HUKUM ANGSA) ”Angsa berkawan seumur hidup, meskipun ia bermigrasi ribuan mil, mereka selalu pulang karena keluarga adalah segalanya.” Hukum angsa adalah komitmen dan prioritas. Komitmen pada tujuan dari sebuah pernikahan. Kita perlu mengatakan komitmen total kita secara lebih sering dan betapa pentingnya anak-anak kita dibanding yang lainnya.
2.Prinsip II : MEMUJI (HUKUM KEPITING) ”Secara insting kepiting akan menarik ke bawah kepiting lainnya yang mencoba memanjat ke atas.” Analogi hukum kepiting terhadap perilaku manusia: akan berusaha untuk menjatuhkan orang lain itu baik secara fisik, verbal, atau secara tertulis, dengan mengkritik atau melakukan penilaian. Jadi, kita seharusnya memberi lebih banyak perhatian terhadap perilaku positif anak dibanding dengan perilaku negatifnya. Kebanyakan insting pengasuhan kita adalah untuk mengkritik, mengoreksi, menyalahkan, dan menghukum. Tahanlah insting untuk mengoreksi, munculkan insting untuk memuji.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 3 |
|
|
Tamu Online
Kami memiliki 2 Tamu online
Pesan Singkat
Pengunjung Terkini
Dudeman - 08.02.10 jam08:28 khansaamalia.amalia@gmail.com - 08.02.10 jam07:41 Salma - 03.02.10 jam08:53 dien.cantik@gmail.com - 27.01.10 jam13:15 andrisfajar@gmail.com - 01.11.09 jam13:19 elang - 18.10.09 jam15:35 cantik - 04.08.09 jam07:51 luthfi - 26.05.09 jam03:15 kasman - 23.05.09 jam03:02 raka - 18.05.09 jam04:54
|