|
Selamat Datang di situs resmi SDIT Insan Mandiri Jakarta
UMROH BERSAMA KELUARGA *) Oleh Asha Eilena Khairunnisa (Murid SDIT Insan Mandiri, Kelas IV Putri) Pada tanggal 30 Juni 2010 kemarin, tepatnya ketika aku sedang libur kenaikan kelas, aku bersama orang tua dan nenekku pergi umroh. Pertama-tama, aku dan keluargaku pergi ke Bandara Soekarno Hatta pada pukul 3 siang. Sambil menunggu, kami makan siang dan berjalan-jalan dulu. Saat jam menunjukkan pukul 5, jama’ah umroh Alia Wisata berkumpul dan diberi selendang bertuliskan Alia Wisata. Setelah itu kami menunggu di ruang tunggu sampai pukul 6 sore. Pukul 6 sore kami terbang menggunakan pesawat Emirates menuju Dubai. Sesampainya di Dubai, kami melakukan boarding pass dan menuju hotel Millenium. Pagi itu kami sarapan dan melakukan tour di Dubai. Kami melihat pemandangan Dubai yang indah dengan gedung-gedungnya dan menara tertinggi di dunia. Siangnya, kami check out dari hotel dan berangkat menuju Jeddah, masih dengan menggunakan pesawat Emirates. Hebatnya, pesawat yang kunaiki kali ini adalah pesawat terbesar di dunia. Kami sampai di Jeddah pada malam hari. Kami langsung dibawa ke Madinah dengan menggunakan bus. Melalui jendela bus, aku dapat melihat hamparan padang pasir yang sepi. Tiba di Madinah, kami langsung check in di sebuah hotel dan bersiap tidur. Esoknya, kami bangun subuh dan shalat di Masjid Nabawi kemudian kembali ke hotel. Setiap waktu shalat tiba, kami ke masjid Nabawi. Begitu terus selama tiga hari. Setelah tiga hari, kami check out dari hotel dan menuju Mekkah. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Sukseskan, HARI TANPA TV, 25 Juli 2010 |
|
|
|
|
Ditulis oleh administrator
|
|
Rabu, 16 Juni 2010 09:26 |
|
Ini adalah hari di mana keluarga-keluarga di Indonesia dihimbau untuk tidak menyalakan TV sehari penuh. Tujuan gerakan ini adalah: - Mengurangi ketergantungan anak pada TV.
- Sarana ungkapan keprihatinan terhadap acara TV.
Makna hari tanpa TV:
- Keluarga mendapatkan kesempatan berharga untuk melakukan aktifitas bersama tanpa gangguan TV.
- Wujud nyata dari kesadaran pentingnya bermedia secara cerdas dan kritis.
Sampaikan dukungan anda melalui SMS ke: 0812.1002.4009.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Munif Chatib
|
|
Kamis, 10 Juni 2010 00:00 |
Berawal dari kelalahan yang amat sangat, keliling berbagai daerah di Indonesia untuk mengenalkan SEKOLAHNYA MANUSIA dan menyebarkan virus positif MULTIPLE INTELLIGENCE. Lalu muncul dalam benak dan kenyataan yang dihadapi, bahwa semua orang ingin berubah untuk menjadi baik dan lebih baik. Namun seperti ada tembok raksasa yang menghadang. Penghalang itu mungkin berupa sistem pendidikan yang kurang manusiawi. Atau paradigma pendidikan manusia yang salah. Sebenarnya hati kecil banyak orang sudah merasakan hal tersebut dan mereka ingin berubah.
Sampai-sampai ketika saya kelelahan dengan pekerjaan yang tidak kunjung selesai. Banyak teman bertanya apa yang bisa kami bantu? Lalu tertulislah rentetan jawaban-jawaban pengandaian. Pengandaian memang seperti kebebasan setiap orang dalam bermimpi. Maka inilah jawaban-jawaban pengandaian:
Jika aku menjadi orangtua, aku akan memberi anak-anakku kesempatan belajar mengenal orangtuanya lebih dalam dan keluarga. Aku tidak memaksakan anak-anakku sepulang sekolah untuk konsentrasi pada PR-PR nya dan buku ajarnya. Aku akan menjadi orangtua yang tahu bahwa belajar itu banyak caranya. Belajar itu bukan anak kita mengerjakan soal-soal dari pukul 7 malam sampai 10 malam.Sedangkan mereka sudah kelelahan belajar mulai pukul 7 pagi. Aku akan memberi kesempatan anakku bercanda, bersendau gurau dengan keluarga. Entah itu di meja makan, di ruang keluarga atau di teras depan rumah. Kalau perlu pergi keluar menghirup angin malam. Aku mungkin yang akan memulai bercerita tentang bagaimana masa mudah dulu akau bertemu dengan makhluk yang bernama MASALAH. Lalu bagaiman aku satu persatu mampu menyelesaikannya. Atau aku bercerita kepada sang buah hati, betapa sulitnya mencari peluang pasar untuk penjualan produk-produk di perusahaan tempat aku bekerja. Betapa kita semua harus kreatif mengahadapi perusahaan-perusahaan asing yang sudah menyebar ke Indonesia. Lalu bergantian aku ingin mendengar cerita-cerita heboh dari anak-anakku tentang kejadian di sekolah. Tentang perilaku teman-teman sekelasnya. Tentang bagaimana gurunya yang heboh ketika mengajar. Bagaimana setiap pelajaran mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Jika aku menjadi orangtua akan aku lakukan itu semua. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh administrator
|
|
Kamis, 10 Juni 2010 11:33 |
|
Hati ibu mana yang tak akan sedih.... yang terlanda gundah gulana... ketika dihadapkan pada sebuah kenyataan... sang buah hati ... tak lagi mau pergi sekolah... mogok belajar di sekolah... karena berbagai penyebab yang membuatnya tidak nyaman, tidak kerasan ... atau bahkan karena adanya rasa takut atau terancam akan sesuatu... yang semakin membuat hati tak menentu arah adalah kurang terbukanya anak untuk bercerita terhadap orang tuanya.... dan mungkin semakin penuh denga rasa gelisah ketika pihak sekolahpun tak mengomunikasikannya dngan baik .... sehingga yang ada adalah praduga-praduga dan prasangka-prasangka tentunya.....
akankah keadaan seperti itu akan terus berlanjut dan tak pernah ada solusi terbaik dalam mengatasinya... karena kita sering jumpai permasalahan tersebut dari waktu kewaktu dan terus ada...
seandainya..... setiap orang tua .... memiliki kedekatan dan keterbukaan yang dipupuk sejak dini dengan sang buah hati... maka dapat dipastikan setiap permasalahan yang hinggap pada diri anak akan segera disampaikan kepada orang tuanya.. tidak terlalu membebani sang buah hati dengan target-target diluar batas kemampuan dan sesuai dengan usianya... anak akan gampang bercerita ketika kegagalan dan kesalahan yang mereka lakukan terjadi... tidak memaksakan sang anak ... harus seperti ini... seperti itu..bisa ini.. bisa itu ... ikut ini ..ikut itu... yakinlah anakpun akan secara sukarela menyampaikan apa yang diinginkan dan apa yang memang menjadi kebutuhannya....
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh administrator
|
|
Kamis, 10 Juni 2010 10:29 |
|
Kesuksesan guru atau orang tua dalam mendidik adalah tatkala ia tahu benar gaya belajar anak, lalu menerapkan pola pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar tersebut. Tidak sedikit guru atau orang tua 'memaksakan' memberikan pola pembelajaran. Mereka menganggap setiap anak sama. Akhirnya gaya mengajar anak harus sesuai dengan gaya belajar guru atau orangtua. Padahal, jika kita sadari hal inilah yang menjadi salahsatu penyebab kegagalan kita dalam mendidik.
Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.
1. Visual (belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 2 |
|
|
Tamu Online
Kami memiliki 3 Tamu online
|