|
Ditulis oleh Drs. Rizalul Amin
|
|
Selasa, 26 Mei 2009 08:51 |
|
Sebuah teko yang diisi air kopi tentu akan mengeluarkan air kopi, meskipun penampilan sangat indah karena terbuat dari emas, ia akan mengeluarkan sesuai isi yang terkandung di dalamnya. Jika boleh dianalogikan dengan seorang guru, ia bagaikan teko yang akan mengisi gelas-gelas yang kosong yang kemudian tertransformasikan isi yang ada pada teko tersebut sesuai dengan kualitas keilmuan dan ruhiyah seorang guru pada anak-anak yang dibimbingnya. Seorang guru, boleh saja dengan gaya dan pengalamannya terlihat keren, piawai dan professional. Namun ada sisi yang perlu diperhatikan yaitu masalah psikologis guru yang akan berdampak pada murid-muridnya. Dari sisi ruhiyah, orang yang jiwanya tenang, tentunya memiliki keikhlasan, semangat dan tanggung jawab yang tinggi untuk mendidik dan menjadikan anak didik mereka sebagai generasi yang terbaik. Tentunya, hal ini hanya ada pada orang yang tahu bahwa mereka akan mendapat balasan lebih yang di berikan manusia. Pembalasan itu adalah pembalasan akhirat. Hal ini tumbuh pada orang yang senatiasa paham akan kebesaran Tuhannya. Untuk mencapai kesana, perlu upaya pembersihan dirinya atau Tazkiyatun Nafs.
Kebersihan jiwa pada seorang guru adalah suatu yang mutlak yang akan langsung dirasakan oleh murid-muridnya. Dari ketenangannya, tanggung jawabnya dan kasih sayangnya sudah menjadikan modal untuk untuk menuangkan kebersihan jiwa kepada murid-muridnya dan mentransformasikan ilmu-ilmu yang ada padanya dengan perasaan dan tujuan yang bersih. Murid-murid akan merasakan dari air yang dituangkan dan mereguknya dengan penuh kenikmatan. Wallahu a’lam Penulis adalah Guru PAI SDIT Insan Mandiri Jakarta |
|
LAST_UPDATED2 |