Jakarta, Kompas - Kerumitan kurikulum yang selama ini dianggap membebani siswa SD-SLTA, perlu disiasati dengan membangun sinergisitas antara guru dan orangtua murid. Di sekolah, guru harus kreatif menyederhanakan materi pelajaran sehingga siswa bisa belajar dengan hati yang senang. Sementara di rumah, orangtua diharapkan memotivasi sekaligus memantau kesulitan belajar putra-putrinya melalui komunikasi yang sehat.Demikian dikemukakan pakar pendidikan Dr Arief Rachman MPd dalam seminar "Proses Pembelajaran yang Efektif, Sederhana, dan Menyenangkan" di Jakarta, Sabtu (2/11). Forum yang digelar Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG) SMU Labschool Kebayoran tersebut juga menampilkan pakar psikologi anak, Ratih Gandasetiawan Phy T, dengan moderator Debra Yatim.
Arief menegaskan, sungguh tidak bijak jika guru mencaci-maki sistem jika beban kurikulum membuat muridnya malas belajar. Daripada terjebak keluhan demi keluhan, ada baiknya masalah itu diatasi dengan membangun kemitraan antara guru dengan orangtua murid. Guru mestinya tertantang untuk membuat strategi baru, misalnya, dengan menyederhanakan materi pelajaran.
"Mulailah dengan hal sederhana. Guru jangan meletakkan kedudukannya sesuai dengan standar materi pelajaran," kata Arief. Pelajaran Matematika dan Kimia, lanjut Arief, mungkin bisa disampaikan tanpa terlebih dulu memaparkan definisi dan rumus-rumus yang baku. Pelajaran semacam itu bisa saja dimulai dengan menerangkan hubungan antara materi pelajaran dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Pada sisi lain, orangtua di rumah juga harus memantau perkembangan daya serap putra-putrinya terhadap materi pelajaran di sekolah. Bila ada kendala, orangtua dan guru bisa saling memberi masukan, baik secara kelembagaan maupun secara pribadi. Sebaliknya, jika perkembangannya positif, orangtua jangan segan-segan memberikan pujian kepada putra-putrinya. "Dari situ, akan tumbuh rasa percaya diri dan sikap kritis yang positif di hati siswa," paparnya.
Menurut Arief, guru dan orangtua merupakan orang-orang yang sangat berperan dalam menentukan suasana batin siswa. Hubungan yang sehat antara siswa, guru, dan orangtua akan melahirkan optimisme, semangat, dan ketenangan belajar. Guru dan orangtua merupakan sumber informasi belajar, di samping teman, buku, alat elektronik, pengalaman lapangan, dan daya ruang imajinasi sendiri.
"Hubungan antara siswa, guru, orangtua, dan teman dapat memberi inspirasi, kepuasan, dan rasa aman. Kebutuhan untuk dihargai, dicintai, dan dihormati dapat muncul dari hubungan yang sehat," tutur Arief. Bahkan, hubungan itu bisa dimaknai dalam konteks supervisi yang pada akhirnya memberi peluang kepada siswa mencapai tujuan proses belajar-mengajar. Terhadap kosa kata "belajar" itu sendiri, Arief menambahkan, selama ini terjadi kekeliruan metodologis sehingga siswa merasa terbebani. Secara paedagogis, kata "belajar" tereduksi kegiatannya hanya untuk keterpelajaran. Sementara secara psikologis, kata "belajar" muncul sebagai kekuatan motivasi eksternal. Orangtua dan guru secara tidak sadar memakai kata "belajar" sebagai perintah. Akibatnya,kata "belajar" dirasakan oleh siswa sebagai beban. Kecerdasan anak
Sementara itu, Ratih Gandasetiawan menjelaskan, orangtua mempunyai kesempatan dan peran yang besar dalam membangun dan mempengaruhi kecerdasan anak. Orangtualah yang paling mengenal anaknya sendiri, kapan dan bagaimana cara belajar yang sebaiknya, serta situasi mana yang dianggap paling nyaman. Kendala paling utama yang dihadapi anak-anak adalah ketika orang dewasa di sekitarnya kurang bersedia mendengarkan dan merespons positif keluhan dan permintaannya. Untuk itu, ia menyarankan, "Biarkan anak-anak belajar melalui pengalamannya sendiri, terutama bila mereka ingin mencoba sesuatu. Jangan terlalu banyak dikomentari. Kalau apa yang dilakukannya itu mengundang bahaya, cukup diarahkan dengan alasan yang masuk akal sehingga anak merasa dihargai." Ratih mengamati, anak-anak yang memproleh kesempatan untuk belajar sesuai dengan pengalaman sendiri-tanpa terlalu banyak didikte oleh orang dewasa di sekitarnya-akan terlihat ceria dan lebih bergairah dalam menghadapi masa depannya. Umumnya, mereka menunjukkan sikap positif dari kepribadian, perasaan, dan perilakunya. (NAR) |